Konsep Sehat

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Ada 36 Anak Balita Menjadi Pecandu Rokok di Indonesia, Sebuah data dan fakta mencengangkan tentang perokok anak dikeluarkan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Menurut Komnas Perlindungan Anak, terdapat 36 perokok anak (baby smokers) yang telah kecanduan merokok sementara terdapat 133 juta anak yang terpapar asap rokok.

“Fakta menunjukkan Indonesia itu ada 133 juta anak yang terpapar asap rokok. Di kami ada 36 perokok anak (baby smokers). Data Menkes hanya 15 tahun ke atas, 15 tahun sampai 1,5 tahun anak itu tidak ada, dan faktanya itu ada,” kata Arist Merdeka Sirait mewakili Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Rabu (12/12/2012), seperti dikutip dari Radio Republik Indonesia.

Ada balita yang berumur 2,5 tahun merokok. Bahkan ada balita berumur 2 tahun di Pontianak, dan 11 bulan telah merokok itu di Palembang, Sumatera Selatan. Itu artinya tingkat usia anak semakin rendah. Jadi tak ada iklan rokok itu dari orang tua. Jadi iklan itu yang mendorong peningkatan anak merokok.

Jumlah perokok, yang berjumlah 133 juta perokok berarti akses anak itu untuk merokok tetap tinggi. Rokok bisa bisa dijual batangan. Lalu rokok hal yang biasa secara sosial. Ini juga mempengaruhi. Benar rokok murah itu akan menyebabkan perokok anak akan semakin meningkat. Iklan promosi itu merupakan harus kita perangi juga.”

Keterangan gambar: Beberapa contoh model kemasan rokok di Thailand. Bungkus rokok harus menampilkan ilustrasi gambar-gambar resiko perokok sebagai alat peringatan agar tidak merokok.

TEORI

1. Konsep Sehat

Konsep Sehat itu adalah sebuah keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik.

Pengertian sehat menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) adalah suatu kedaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

Menurut Undang Undang Kesehatan N0. 23 tahun 1992 tentang kesehatan : Sehat atau kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

 Ada 3 komponen penting dalam definisi sehat yaitu sehat jasmani, sehat mental (pikiran, emosional dan spiritual) dan sehat sosial. Sehat sosial mencakup status sosial, kesejahteraan ekonomi dan saling toleransi dan menghargai.

Sehat menurut ilmu faal dalam Buku Ilmu Faal Olahraga terbagi dalam 2 tingkatan yaitu ; 1. Sehat statis : adalah normalnya fungsi alat tubuh saat istirahat. 2. Sehat dinamis : adalah normalnya fungsi alat tubuh saat olahraga atau sedang bekerja.

Pasien dengan penyakit jantung contohnya, dikategorikan dalam sehat statis karena kondisi sehat hanya pada saat istirahat.

 Sehat dinamis adalah tingkat kesehatan yang ingin dicapai oleh semua orang. Tubuh kita sehat pada saat olahraga atau istirahat. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat menikmati hidup lebih indah.  Dalam newsletter konsep sehat ini akan dibahas bagaimana cara hidup sehat dan apa pengertian dari sehat jasmani, mental dan spiritual.

 2. Konsep Sehat Menurut Psikoanalisa

Psikolanalisa merupakan salah satu aliran besar dalam dunia psikologi, pencetus awalnya adalah Sigmund Freud, berikut saya akan coba menjabarkan teori psikoanalisa dari Sigmund Freud dan kemudian mengaitkannya dengan kepribadian yang sehat.

Menurut Erikson, perkembangan manusia melewati suatu proses dialektik yang harus dilalui dan hasil dari proses dialektik ini adalah salah satu dari kekuatan dasar manusia yaitu harapan, kemauan, hasrat, kompetensi, cinta, perhatian, kesetiaan dan kebijaksanaan. Perjuangan di antara dua kutub ini meliputi proses di dalam diri individu (psikologis) dan proses di luar diri individu (sosial). Dengan demikian, perkembangan yang terjadi adalah suatu proses adaptasi aktif.

Remaja menurut Erikson, memiliki dua kutub dialektik yaitu Identitas dan Kebingungan . Salah satu dari pencarian individu dalam tahapan ini yaitu pencarian identitas dirinya dengan menjawab satu pertanyaan penting yaitu “Siapa Aku?”. Bila individu berhasil menjawabnya akan menjadi basis bagi perkembangan ke tahap selanjutnya. Namun, apabila gagal, maka akan menimbulkan kebingungan identitas di mana individu tidak berhasil menjawab siapa dirinya yang sebenarnya. Apabila seorang individu tidak berhasil menemukan identitas dirinya, maka ia akan sulit sekali mengembangkan keintiman dengan orang lain terutama dalam hubungan heteroseksual dan pembentukan komitmen seperti yang terdapat dalam pernikahan.

 Sepanjang masa hidupnya, Freud adalah seorang yang produktif. Meskipun ia dianggap sosok yang kontroversial dan banyak tokoh yang berseberangan dengan dirinya, Freud tetap diakui sebagai salah seorang intelektual besar. Pengaruhnya bertahan hingga saat ini, dan tidak hanya pada bidang psikologi, bahkan meluas ke bidang-bidang lain. Karyanya, Studies in Histeria (1875) menandai berdirinya aliran psikoanalisa, berisi ide-ide dan diskusi tentang teknik terapi yang dilakukan oleh Freud.

Pemikiran dan teori

  1. Freud membagi mind ke dalam consciousness, preconsciousness dan unconsciousness . Dari ketiga aspekkesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id , ego, super ego

Keperibadian yang normal (sehat) :

1)  Kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.

2)   Hasil dari belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan.

3) Kesehatan mental yang baik adalah hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego. Prayitno (1998:42)

 3. Teori Psikososial Ericson

Terdapat 8 jenis tahap-tahap perkembangan psikososial Erickson, yaitu :

a. Psikososial Tahap 1

(Trust vs Mistrust (kepercayaan vs kecurigaan) )

Tahap ini berlangsung pada masa oral, pada umur 0-1 tahun atau 1,5 tahun (infancy). Bayi pada usia 0-1 tahun sepenuhnya bergantung pada orang lain, perkembangan rasa percaya yang dibentuk oleh bayi tersebut berdasarkan kesungguhan & kualitas penjaga (yang merawat) bayi tersebut. Apabila bayi telah berhasil membangun rasa percaya terhadap si penjaga, dia akan merasa nyaman & terlindungi di dalam kehidupannya. Akan tetapi, jika penjagaannya tidak stabil & emosi terganggu dapat menyebabkan bayi tersebut merasa tidak nyaman dan tidak percaya pada lingkungan sekitar.
Kegagalan mengembangkan rasa percaya menyababkan bayi akan merasa takut dan yakin bahwa lingkungan tidak akan memberikan kenyamanan bagi bayi tersebut, sehingga bayi tersebut akan selalu curiga pada orang lain.

 b. Psikososial Tahap 2

(Otonomi vs perasaan malu dan ragu-ragu.)

Tahap ini merupakan tahap anus-otot (anal/mascular stages), masa ini disebut masa balita yang berlangsung mulai usia 1-3 tahun (early childhood).
Pada masa ini anak cenderung aktif dalam segala hal, sehingga orang tua dianjurkan untuk tidak terlalu membatasi ruang gerak serta kemandirian anak. Namun tidak pula terlalu memberikan kebebasan melakukan apapun yang dia mau.
Pembatasan ruang gerak pada anak dapat menyebabkan anak akan mudah menyerah dan tidak dapat melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Begitu pun sebalikny, jika anak terlalu diberi kebebasan mereka akan cenderung bertindak sesuai yang dia inginkan tanpa memperhatikan baik buruk tindakan tersebut. Sehingga orang tua dalam mendidik anak pada usia ini harus seimbang antara pemberian kebebasan dan pembatasan ruang gerak anak. Karena dengan cara itulah anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri.

 c. Psikososial Tahap 3

(Inisiatif vs kesalahan)

Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age)
Anak-anak pada usia ini mulai berinteraksi dengan lingkungak sekitarnya sehingga menimbulkan rasa ingin tahu terhadap segala hal yang dilihatnya.
Mereka mencoba mengambil banyak inisiatif dari rasa ingin tahu yang mereka alami. Akan tetapi bila anak-anak pada masa ini mendapatkan pola asuh yang salah, mereka cenderung merasa bersalah dan akhirnya hanya berdiam diri. Sikap berdiam diri yang mereka lakukan bertujuan untuk menghindari suatu kesalahan-kesalahan dalam sikap maupun perbuatan.

 d. Psikososial Tahap 4

(Kerajinan vs inferioritas)

Tahap ini merupakan tahp laten usia 6-12 tahun (school age) ditingkat ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya. Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil melalui tuntutan tersebut. Anak dapat mengembangkan sikap rajin, jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (infieoritas), anak dapat mengembangkan sikap rendah diri. Sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangat penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia ini usaha yang sangat baik pada tahap ini adalah dengan mengembangkan kedua karakteristik yang ada. Dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.

 e. Psikososial Tahap 5

(Identitas vs kekacauan identitas)

Tahap ini merupakan tahap adolense (remaja), dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18 tahun/anak. Di dalam tahap ini lingkup lingkungan semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung dalam tahap ini. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Namun sebaliknya, jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut.

 f. Psikososial Tahap 6

(Keintiman vs isolasi)

Tahap ini terjadi pada masa dewasa awal (young adult), usia sekitar 18/20-30 tahun. Dalam tahap ini keintiman dan isolasi harus seimbang untuk memunculkan nilai positif yaitu cinta. Cinta yang dimaksud tidak hanya dengan kekasih melainkan cinta secara luas dan universal (misal pada keluarga, teman, sodara, binatang, dll).

 g. Psikososial Tahap 7

(Generatifitas vs stagnasi)

Masa dewasa (dewasa tengah) ditempati oleh orang-orang yang berusia yang berusia sekitar 20 tahunan sampai 55 tahun (middle adult). Dalam tahap ini juga terdapat salah satu tugas yang harus dicapai yaitu dapat mengabdikan diri guna mencapai keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generatifitas) dengan tidak melakukan apa-apa (stagnasi). Harapan yang ingin dicapai dalam masa ini adalah terjadinya keseimbangan antara generatifitas dan stagnasi guna mendapatkan nilai positif yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generational dan otoritisme. Generational merupakan interaksi yang terjalin baik antara orang-orang dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme merupakan interaksi yang terjalin kurang baik antara orang dewasa dengan para penerusnya karena adanya aturan-aturan atau batasan-batasan yang diterapkan dengan paksaan.

 h. Psikososial Tahap 8

(Integritas vs keputus asaan)

Tahap ini merupakan tahap usia senja (usia lanjut). Ini merupakan tahap yang sulit dilewati karena orang pada masa ini cenderung melakukan introspeksi diri. Mereka akan memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi pada masa sebelumnya, baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Jika dalam masa sebelumnya orang tersebut memiliki integritas yang tinggi dalam segala hal dan banyak mencapai keberhasilan maka akan menimbulkan kepuasan di masa senja nya. Namun sebaliknya, jika orang tersebut banyak mengalami kegagalan maka akan timbul keputus asaan.

 

CONTOH KASUS

Bocah Merokok dan Bicara Cabul – “Aku Malas Sekolah, Mau Jadi Preman”

Sebuah video pendek muncul di You Tube, kemarin, dan langsung menyentak. Video berdurasi 3.29 detik dengan judul ‘Anak Kecil Berbicara Kotor Dan Merokok! Dari Surabaya!’ itu memperlihatkan seorang bocah sedang merokok dan berbicara kotor.
Gayanya merokok menunjukkan betapa ia sudah sangat terbiasa melakukannya. Dengan mulut yang dimonyongkan, balita berinisial SW (4 tahun) ini membentuk asap menjadi cincin-cincin kecil. Ia juga dengan bahasa yang sangat lugas menyebut (maaf) alat kelamin perempuan dan laki-laki.
Perilaku ini ternyata bukan tak diketahui orangtua SW. Mulud (40), ayah SW, mengaku kewalahan dengan perilaku SW. Semula ia berencana memasukkan SW ke sekolah, dengan harapan dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk itu. “Namun dia tidak mau bersekolah. Katanya malas, mending ngene jadi preman (enak begini jadi preman – red). Sering pula dia bilang mau jadi maling,” ujar Mulud di rumah rumpangannya Jalan Nusakambangan, Kota Malang, Rabu (31/3).
Sejak beberapa waktu lalu, Mulud dan anaknya memang menumpang di rumah Sinyo (24), temannya yang bekerja sebagai pengantar barang. Mulud sendiri pekerja bangunan serabutan. Sinyo merasa prihatin dengan perkembangan jiwa SW. “Kalau dibiarkan bisa makin rusak. Saya dan bapaknya berharap ada yang membantu menyekolahkan, biar jadi benar ini anak. Saya pikir dia jadi begitu karena lingkungannya dulu yang rusak. Dia pernah bilang sama saya kalau ada orang yang mengajarinya merokok,” katanya.

 

ANALISIS KASUS

Pada kasus diatas, saya menganalisis kasus tersebut  menggunakan teori Psikoanalisa yang diungkapkan oleh Ericson, karena sesuai dengan permasalahan yang terdapat dalam kasus diatas. Di bawah ini, merupakan penjelasan dari teori yang diungkapkan oleh Ericson itu sendiri.

Menurut Ericson, terdapat 8 tahapan perkembangan psikososial namun yang sesuai dalam kasus diatas ialah tahap ke 3  Inisiatif vs kesalahan. Tahapan ini dialami anak pada saat usia 4-5 tahun (preschool age).  Anak-anak pada  usia tersebut mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu terhadap segala hal yang dilihatnya.

Pada kasus ini, anak dibawah lima tahun sudah dapat merokok dan berkata cabul dikarenakan lingkungan sekitarnya yang tidak baik. Banyak contoh-contoh yang tidak baik berada dalam lingkungan si anak. Peran orangtua sangat dibutuhkan saat anak memasuki fase ini,karena orangtua dapat mengawasi, mengarahkan, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, anak tersebut tidak mendapatkan pengawasan yang seharusnya diberikan kedua  orangtuanya. Jika saja anak tersebut mendapatkan pengawasan dan pola asuh yang  seharusnya , maka anak tersebut akan baik  perkembangan psikososialnya.

 

SUMBER:

https://kharinblog.wordpress.com/2012/11/24/tahap-tahap-perkembangan-psikososial-erik-erikson/

https://fadbali.wordpress.com/news/bocah-merokok-dan-bicara-cabul-%E2%80%9Caku-malas-sekolah-mau-jadi-preman%E2%80%9D/

http://www.muslimdaily.net/berita/medis/ada-36-anak-balita-menjadi-pecandu-rokok-di-indonesia.html

http://udoctor.co.id/udoctor3/includes/broadcast/09.2014.0001_Konsep_Sehat.pdf

http://ajengdwiy-ajeng.blogspot.com/2013/03/teori-kepribadian-sehat-aliran.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s